Hari Air Sedunia XXV: Sosialisasi Pembentukan Forum Masyarakat Peduli Sungai Wolowona Ende

Selasa, 21 Maret 2017 dilaksanakan Sosialisasi Pembentukan Forum Masyarakat Peduli Sungai Wolowona bertempat di kilo meter 14 Kelurahan Rewarangga Kecamatan Ende Timur. Kegiatan yang difasilitasi oleh Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II (BWS NT II) ini dibuka oleh Camat Detusoko, Yohanes Hebi, SH mewakili Bupati Ende dan dihadiri oleh Kepala Seksi O & P BWS NT II, Endiyo Raharjo, ST, MT, PPK O&P I, Petrus Dj Rasnan, ST, MT, Camat Ndona, Drs. Yohanes R. Demi, Camat Ende, Drs. Bernadus Idu, Camat Ende Timur, Karolus Djemada,S.Ip, tokoh adat, tokoh masyarakat, para kepala desa dan akademisi dari Uniflor. Dalam sambutannya Bupati Ende yang dibacakan oleh Camat Detusoko, Yohanes Hebi mengatakan kebutuhan air bersih masyarakat Ende untuk berbagai kebutuhan saat ini tidak sebanding dengan ketersediaan air yang berasal dari sungai Wolowona, atau mengalami krisis air bersih. Disisi lain kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) Wolowona semakin memprihatinkan akibat ulah manusia, maka diharapkan agar kita semua dapat menjaga lingkungan dan ekosistim dengan tidak menebang pohon sembarangan, tidak membuang sampah ke sungai dan tidak menjadikan sungai sebagai daerah penambangan yang mengakibatkan perubahan morfologi sungai.

Kepala Seksi O & P SDA NT II, Endiyo Raharjo, ST, MT dalam sambutannya mengatakan kegiatan ini merupakan sosialisasi yang merupakan tahap awal dari pembentukan forum. Untuk mengisi nama-nama dalam kepengurusan BWS NT II akan melakukan koordinasi dengan pihak akademis maupun kecamatan terkait, sesuai dengan bidang serta kemampuannya, seperti Ketua, Sekretaris, Bendahara dengan 7 seksi serta anggotanya masing-masing. Forum yang telah terbentuk akan disahkan oleh Bupati Ende. Berkaitan dengan struktur organisasi forum yang ada merupakan acuan yang dapat di tambah maupun dikurangi sesuai dengan kebutuhan.

Dikatakan tujuan dibentuknya forum ini untuk menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab masyarakat akan keberadaan sungai dan pengelolaan sungai. Melalui forum yang merupakan wadah atau tempat dimana masyarakat bisa memberikan ide-ide atau saran serta menyampaikan permasyalahan yang berkaitan dengan sungai, diharapkan juga peningkatan partisipasi masyarakat didalam pengelolaan sungai Wolowona. Lebih dari pada itu melalui forum ini juga masyarakat juga dapat melakukan berbagai kegiatan seperti kerja bakti membersihkan sungai, penanaman pohon berkaitan dengan konservasi sungai. Terhadap kegiatan yang akan dilaksanakan, selanjutnya dapat disampaikan ke Balai dalam bentuk proposal dan Balai akan memfasilitasi ke pemerintah pusat. Bagi para pengurus akan dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan Kementrian PUPR, seperti kegiatan pemberdayaan ataupun mengikuti lomba-lomba.

Diungkapkan bahwa kondisi sungai Wolowona masih tergolong bagus, tetapi di beberapa tempat rawan terjadinya banjir dan tanah longsor dipengaruhi oleh kondisi topografi yang curam (72%) dan curah hujan yang tinggi mencapai 270 mm. “Disinilah peran forum tersebut sebagai wadah komunikasi dengan pemerintah, yaitu menginformasikan daerah-daerah yang rawan terjadi banjir dan tanah longsor untuk segera ditangani”, kata Endiyo. Disoroti penambangan galian C yang kerap terjadi di Sungai Wolowona, seperti penambangan batu. Diingatkan agar penambangan tersebut tidak merusak lingkungan, sehingga kualitas air tetap terjaga. Sebab pada bagian hiir ada pengambilan air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat Ende. Jika air tercemar, maka akan memerlukan biaya yang lebih tinggi dalam mengolah air untuk mendapatkan kualitas air bersih yang disyaratkan, keadaan ini tentunya akan menaikan harga air itu sendiri.

Sesuai dengan Tema Hari Air Sedunia XXV “Bersama Kita Selamatkan Air Untuk Kehidupan”. yang jatuh pada tanggal 22 Maret, diajak masyarakat sekalian untuk bersama-sama menjaga keberadaan dan keberlangsungan sungai Wolowona ini demi anak cucu kita.

Panitia kegiatan, Burhan Budi, ST, MT dalam petunjuk teknis mengatakan forum ini adalah lembaga non strukrural dan independen, sedangkan tata kerja dari Forum dengan instansi atau lembaga lain pada dasarnya adalah bersifat konsultatif dan koordinatif. Untuk melaksanakan fungsi dan tugasnya, Forum ini secara berkala maupun setiap saat diperlukan dapat mengadakan rapat/ sidang/ musyawarah baik bersifat pleno, terbatas maupun gabungan, paling sedikit 2 (dua) kali setiap tahun, yaitu menjelang musim kemarau dan menjelang musim penghujan. Biaya-biaya yang sangat dibutuhkan untuk menjalankan Forum Masyarakat Peduli Sungai adalah biaya operasional kesekretariatan seperti peralatan komputer, alat komunikasi,bahan dan alat tulis, upah / honor tenaga staf dan rapat rutin yang bisa dijadwalkan.

Pada kesempatan itu ke empat camat yang hadir di daulat sebagai tim formatur untuk memilih Badan Pengurus Forum dengan mendengar masukan dari peserta. Selanjutnya dipilih masing-masing: Ketua: Ferdinandus Watu, Sekretaris: Maria Patrisia Wata Beribe dan Bendahara: Makarius Sapo, dengan Dewan Pembina: Bupati Ende, Wabup Ende dan Ketua DPRD Ende, Dewan Pengarah: Kepala BWS NT II dan Dewan Pakar: Kepala Seksi OP SDA NT II. Sedangkan untuk posisi koordinator seksi dan anggotanya mengalami perdebatan yang cukup alot, karena pertimbangan berbagai masukan dan saran dari peserta yang hadir. Akhirnya disepakati untuk menentukan koordinator tiap seksinya saja, sedangkan nama-nama anggotanya akan ditentukan kemudian. Dari nama-nama BP Forum kemudian dibuatkan Berita Acara Pembentukan Forum Masyarakat Peduli Sungai Wolowona yang ditandai-tangani oleh Ketua dan Sekretaris terpilih dengan saksi-saksi: Camat Detusoko, Yohanes Hebi, SH, Camat Ndona, Drs. Yohanes R. Demi, Camat Ende, Drs. Bernadus Idu, Camat Ende Timur, Karolus Djemada,S.Ip, Unsur Balai, Endiyo Raharjo, ST, MT dan Unsur Akademis, Philipus N. Supardi, ST. M.Agb. Selanjutnya BP terpilih ditugasi segera menyusun Rancangan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, serta melengkapi nama-nama pada setiap seksi. (Bai)  

Keterangan Foto :