Musibah Banjir Pada Anak Sungai Puames - Raknamo Kabupaten Kupang

Kejadian alam atau bencana yang pada akhirnya menimbulkan korban jiwa tidak ada yang menginginkannya. Demikian pula kejadian yang dialami oleh 5 orang pekerja pada bendungan Raknamo Kupang-NTT (30/01), ketika hujan mereka berteduh di bawah kolong jembatan kali Puames dengan kondisi air kering. Tanpa disadari air yang datang semakin besar dan akhirnya menyerat mereka 2 orang berhasil selamat sementara 3 orang korban tewas bernama Rahmat Supriyanto, 24, asal Ternate, Juju, 45, asal Garut, Jawa Barat dan Moses Masan, 28, asal Pati, Jawa Tengah.

Kepala Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II (BWS NT II), Deppy Cipta, SST didampiingi oleh Kasatker Bendungan Raknamo, Marthen Tella, ST, MT, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Bendungan Raknamo, Frengky Welkis, ST, Kepala Proyek (Kapro) PT Waskita Ir. Mohammad, MM, Kasie Pelaksanaan, Constandji Nait, SP, MT, Kasatker PJPA, Ir. Yayat Sumaryat, MT, dan Kasatker PJSA, Alfres Lukas, ATP, Msi. dalam keterangan pers (31/01) bertempat di Kantor Satker Bendungan BWS NT II mengatakan bahwa kejadian yang menimpa para pekerja di kolong jembatan yaitu akses jalan masuk ke bendungan Raknamo atau 400 m dari lokasi bendungan merupakan kejadian yang tanpa disangka-sangka, disampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga korban.

PPK Raknamo, Frengky Welkis didampingi oleh Kapro Waskita, Muhammad menjelaskan kronologi kejadian bermula saat ke 5 pekerja tersebut yaitu: Moses Masan (Ass Pelaksana PT. WK), Ade Jumad (Jujuh)/pekerja, Rahmad Supriyanto (supri)/pekerja, Erik Aripin (Erik)/operator alat dan Suryaman (Surya)/pekerja tengah melaksanakan pekerjaan leveling lahan untuk pengecoran jalan (Rigid Pavement) pada lokasi STA. 2+789, sekitar jembatan ke 3 dari jalan masuk ke lokasi proyek bendungan Raknamo. Kondisi cuaca pagi hari sampai pukul 12.00 cerah dan setelah makan siang, pekerjaan dilanjutkan.

Pada pukul 13.00 cuaca mulai mendung, disertai gerimis, selanjutnya Moses memerintahkan Erik untuk menghentikan pekerjaan, sementara Jujuh, Supri dan Surya lebih dahulu berteduh dibawah jembatan atas inisiatif Moses. Setelah parkir alat, Erik dan Moses menyusul ke bawah jembatan untuk berteduh dari hujan yang sudah mulai deras. Pada saat itu kondisi air yang mengalir disungai bawah jembatan tidak begitu besar, air mengalir melalui sisi kiri dan kanan jembatan (box culvert) sedangkan pada tengah jembatan (box culvert) dimana para pekerja berada masih belum ada aliran air sementara hujan makin deras.

Sekitar pukul 13.15 wita air mulai meninggi kurang lebih setinggi paha orang dewasa. Moses sempat menelpon pelaksana lain (Didik) untuk minta dijemput, sementara Erik berinisiatif naik ke atas untuk mengambil tambang karena seingat Erik di atas ada tambang dengan maksud membantu 4 orang temannya yang masih di bawah yakni: Moses, Jujuh, Supri dan Surya. Saat keluar dari kolong jembatan Erik merasa kesulitan karena aliran air cukup deras menghambat pergerakan dengan sepatu kerja (boot karet). Melalui ujung jembatan yang tidak begitu tinggi Erik berusaha naik dan berhasil sampai ke atas.

Tiba di atas jembatan Erik langsung meraih tali lalu mengulur tali kepada 4 rekannya untuk berupaya menyelamatkan dari air yang makin tinggi, namun pada saat itu Moses mengarahkan untuk terlebih dahulu menyelamatkan tasnya. Setelah tas berhasil diangkat, Erik menyimpan ditempat yang terlindung dari hujan. Kemudian Erik mencari bantuan pekerja yang lain untuk menolong temannya dengan menggunakan tambang. Pada saat itu Erik bertemu Abdul dan Ujang (pekerja pengecoran jalan) yang sementara berteduh dari hujan dibawah pohon jati tidak jauh dari jembatan, kemudian mereka kembali ke jembatan untuk menolong rekannya. Setiba di jembatan sudah ada 2 orang masyarakat lokal yang kebetulan lewat dan mereka sementara memegang tambang diatas jembatan guna menarik 4 rekannya yang berada dibawah jembatan dengan kondisi air semakin deras. Ke 4 rekannya berjuang sambil memegang tambang melawan derasnya air yang datang dengan membawa berbagai material seperti kayu dan lumpur.

Beberapa saat sempat bertahan dalam kondisi arus banjir yang cukup besar hingga kelelahan, Suryaman terlihat pasrah dan melepas pegangan tambang lalu hanyut terbawa arus. Suryaman hanyut, dengan kondisi setengah sadar karena kepala terbentur kayu yang hanyut. Suryaman terbawa arus ke tepi sungai dan berhasil menyelamatkan diri. Sementara itu 3 rekan yang lain (Moses, Jujuh, Rahman) juga hanyut namun tidak terdeteksi ke arah mana.

Erik yang melihat rekan-rekannya hanyut lalu pergi mencari bantuan guna bersama-sama mencari disepanjang alur sungai. Sekitar pukul 13.20 wita tim proyek bersama-sama ke lokasi dan mereka menyebar menelusuri sungai mencari rekannya yang hanyut. Sementara itu Suryaman yang berhasil menyelamatkan diri, oleh tim proyek langsung dibawa ke RSUD Naibonat Kabupaten Kupang untuk mendapatkan pertolongan pertama. Pukul 15.15 wita tim SAR tiba dilokasi kejadian lalu membantu pencarian. Pukul 16.30 wita 2 orang yaitu; Jujuh dan Supri ditemukan kurang lebih 1.5 km dari lokasi kejadian dalam keadaan meninggal dunia. Pukul 18.30 wita pencarian dihentikan karena kondisi tidak memungkinkan dan akan dilanjutkan pada esok harinya. Pada pagi harinya (31/1/17) Tim SAR, tim Proyek, TNI (Koramil) dan masyarakat kembali melanjutan pencarian dan pada pukul 10.45 menemukan Moses dalam keadaan meninggal dunia yang berada sekitar 4,5 km dari lokasi kejadian.

Kapro, Ir Muhammad mengatakan akan memfasilitasi pemulangan korban hingga sampai ke rumah keluarga korban. Jenazah Jujuh dan Supri akan diterbangkan ke kampung halamannya di Jawa Barat dan Ternate pada Selasa (31/1/2017) malam. Sedangkan Moses Masan akan diterbangkan ke kampung halaman korban di Ternate, Rabu (1/2/2017) pagi. Ditambahkan bahwa para korban juga akan mendapatkan santunan asuransi karena mereka telah terdaftar pada asuransi ketenagakerjaan dan santunan dari PT. Waskita Karya. (Bai)

PPK Bendungan Raknamo, Frengky Welkis, ST dan Kapro Waskita Ir. Mohammad, MM memberikan penjelasan kepada wartawan  (31/01/17)