Potret Sungai Benanain Dalam Konsep Dan Penanganan Terpadu

Oleh : Yohanes J Fernandez

 

I LATAR BELAKANG

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan luas wilayah daratan sebesar 47.349,9 Km2 meliputi 1.192 pulau dengan penyebaran jumlah penduduknya sebanyak 4,67 juta jiwa. Berdasarkan data statistik (NTT dalam Angka Thn. 2011), penyebaran jumlah penduduk ini dirilis 70 % berprofesi sebagai petani. Lebih lanjut ditulis bahwa NTT mempunyai penduduk miskin 23 % dibandingkan dengan skala nasional sebesar 14,14 %. Di wilayah ini ditemukan juga 20 (dua puluh) kabupaten termasuk daerah tertinggal dari 21 (dua puluh satu) kabupaten/Kota yang ada.

Kabupaten Belu adalah salah satu kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang wilayahnya terletak di sebelah Timur P. Timor. Secara geografis Kabupaten ini terletak pada koordinat
1240 – 1260 lintang selatan. Posisinya sangat strategis karena berada pada persimpangan Negara Timor Leste dengan bagian lain Provinsi Nusa Tenggara Timur serta pada titik silang antara Kabupaten TTS dan Kabupaten TTU. Batas wilayah Kabupaten Belu adalah sebagai berikut : sebelah Utara dengan Selat Ombai, sebelah Selatan dengan Laut Timor, sebelah Timur dengan Negara Timor Leste serta sebelah Barat dengan Kabupaten Timor Tengah Utara dan Timor Tengan Selatan.

Meneropong potensi sumber daya air, baik permukaan maupun air tanah, di Prov. NTT sangat berlebihan jika memasuki musim hujan dengan rata-rata curah hujan 1.200 mm/tahun setara dengan 18 milyar m3/tahun yang terjadi pada pertengahan bulan Desember-Maret. Dari potensi yang ada dibutuhkan hanya 5 milyar m3/tahun, sehingga kelebihannya mengakibatkan banjir yang  menggenang dan merusak wilayah dataran, zona pemukiman dan pusat perdagangan serta industri atau pusat perekonomian. Sebaliknya, pada musim kemarau, akses terhadap air untuk kebutuhan penduduk, ternak, pertanian dan kebutuhan lainnya terasa sangat sulit diperoleh. Kondisi ini terjadi pula pada Sungai Benanain di Kabupaten Belu yang merupakan sungai dengan luas Daerah Aliran Sungai (DAS) terbesar di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yakni : 3.158 km2.

Karakteristik Sungai Benanain yang memiliki fluktuasi debit yang sangat ekstrim, memberi indikasi bahwa kondisi DAS Benanain mengalami kerusakan yang sangat kritis. Hal ini mengakibatkan aliran permukaan (runoff) bertambah besar, hanya sebagian kecil saja menjadi aliran air tanah. Besarnya runoff mengakibatkan debit dan kecepatan air yang besar langsung mengalir menuju sungai. Sepanjang pengalirannya, terjadi pengikisan permukaan tanah (erosi), bahkan menggerus dan membawa semua material yang dilewati mengisi palung dan alur sungai yang akibatnya akan mengurangi kapasitas alur sungai.

Di sisi lain, kondisi geologi permukaan di DAS dan sepanjang alur/tebing Sungai Benanain sangat rentan atau in-stabil terhadap longsoran yang terjadi disepanjang alurnya. Fenomena ini dapat diamati di beberapa ruas Sungai Benanain ketika terjadi banjir yang berdampak pada kerusakan tebing bahkan sampai merusak dan menjebol tanggul-tanggul yang sudah dibuat untuk mengantisipasi meluapnya air sungai.

Limpasan ini yang kemudian menjadi bencana banjir karena mengalami over topping dan mengalir
ke daerah-daerah pemukiman dan lahan-lahan penduduk di sekitarnya. Dampak akibat luapan air

Upload File: 

Komentar

mantappp