LampiranUkuran
WADUK RAKNAMO.pdf1.15 MB

Permasalahan

Rencana pembangunan Waduk Raknamo mengalami permasalahan yang perlu diselesaikan antara lain:

Di daerah genangan waduk terdapat kuburan lama penduduk setempat sebanyak 20 buah, berlokasi di Kaniti sebanyak 7 buah kuburan dari keluarga Sora (AS Dam), di Saha I terdapat 5 Buah kuburan dari keluarga Anin dan di Saha II terdapat 8 buah kuburan dari keluarga Taraen.
Berdasarkan hasil studi LARAP, yang masih diperlukan klarifikasi kembali pada pihak terkait bahwa di dalam daerah genangan waduk seluas 147,30 Ha terdapat kawasan hutan, yang diantaranya merupakan hutan produksi terbatas seluas kurang ± 17-20 Ha.
Pembahasan KA-ANDAL di tingkat Tim Teknis belum mendapat persetujuan maka studi AMDAL tidak dapat dilanjutkan.


Kelayakan Ekonomi

Asumsi untuk mengevaluasi ekonomi pembangunan Bendungan Raknamo ini, sebagai berikut :

  1. Umur ekonomi bendungan dan umur fasilitas irigasi diperkirakan 50 tahun.
  2. Sesuai dengan ekonomi internasional, pajak dan subsidi pembayaran transfer serta bunga bank tidak termasuk dalam analisa ekonomi.
  3. Manfaat proyek diperkirakan diperoleh secara berangsur-angsur yaitu tahun pertama setelah proyek selesai sebesar 60%, tahun kedua sebesar 80%, tahun keempat sebesar 90% dan tahun kelima danseterusnya sebesar  100%.

Dari analisa ini, kelayakan ekonomi didapatkan :

  1. E – IRR sebesar 14,54% untuk kondisi normal
  2. E – BCR pada suku bunga I = 12% sebesar 2,27

Rencana Distribusi Air

Rencana pendistribusian air dari Bendungan Raknamo terbagai dalam dua bagian yaitu pengembangan jaringan air baku bagi Ibukota Kabupaten Kupang dan penduduk disekitarnya, sedangkan untuk air irigasi terdapat dua alternatif pengembangan.

a. Pengembangan Jaringan Air Baku

b. Pengembangan Jaringan Irigasi


Data Teknis

Adapun Data Teknis Bendungan Raknamo dan bangunan penunjangnya adalah sebagai berikut:

Daerah Aliran Sungai (DAS)

Luas : 38,34 km2
Panjang Sungai : 15,71 km
Hujan Tahunan Rata-rata
- Sta. Camplong : 1.323 mm
- Sta. Raknamo : 1.527 mm
Inflow tahunan Q 80%  : 15 juta m3
Debit rata-rata musim hujan : 1,680 m3/dt (Nopember-April)
Debit rata-rata musim kemarau : 0,032 m3/dt (Mei-Oktober)


Rencana Penganggaran, Kronologi Perencanaan, dan Usia Guna Waduk

Rencana Penganggaran. Adapun anggaran untuk rencana pembangunan Bendungan Raknamo secara bertahap sebagai berikut:

Anggaran Perencanaan : Rp. 5.200.000.000.-

Anggaran Persiapan/Pembebasan Lahan : Rp. 210.000.000.-

Anggaran Pelaksanaan (termasuk biaya administrasi, jasa supervise, biaya tak terduga dan eskalarasi harga ) : Rp. 500.000.000,- / tahun

Sumber Dana : APBN & Pinjaman Luar Negeri

Kronologis Perencanaan


Perkiraan Nilai Tanah

Nilai tanah pada lokasi rencana Bendungan Raknamo, sesuai Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) Tahun 2013 adalah Rp.7.000. Berdasarkan studi pembebasan tanah dan pemukiman kembali pada lokasi rencana pembangunan Bendungan Raknamo telah disepakati bahwa kompensasi untuk ketiga keluarga besar (marga) pemilik tanah yaitu: Marga Taraen, Anin dan Sora disusun sebagai berikut:


Perkiraan Jangka Waktu Pelaksanaan Pembangunan

Pembangunan Bendungan Raknamo dijadwalkan pelaksanaannya selama 3 (tiga) tahun anggaran, termasuk proses tender. Proses dan tahapan pelaksanaannya sebagai berikut:

  1. Tahun Pertama (2014)
  2. Tahun Kedua (2015)
  3. Tahun Ketiga (2016)

Luas Tanah dan Gambaran Umum Tanah

Luas Tanah yang Dibutuhkan

Berdasarkan hasil detail desain rencana pembanguan Bendungan Raknamo, daerah luas genangan Waduk untuk Spillway akan mencapai elevasi +101,00 meter dari permukaan laut, akan membutuhkan tanah seluas ± 147,30 Ha, dan puncak bendungan akan mencapai elevasi +106,20 meter dari permukaan laut, akan membutuhkan tanah seluas 197,34 Ha.


Letak Tanah dan Lokasi Rencana Bendungan Raknamo

Rencana Bendungan Raknamo adalah di Sungai Noel Puames. Secara administrasi, letak tanah untuk Bendungan Raknamo berada di wilayah Dusun IV (Dusun Oepoi), Desa Raknamo, Kecamatan Amabi Oefeto, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur.


Pembangunan Bendungan Raknamo

Latar Belakang

Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur mempunyai keadaan iklim yang tergolong daerah tropis kering (semi arid) dengan curah hujan rata-rata 1,200 mm/tahun.Musim hujan biasanya terjadi pada pertengahan Bulan Desember hingga Bulan Maret dengan intensitas curah hujan yang tinggi dalam durasi waktu yang pendek, sehingga sering menimbulkan banjir. Sedangkan 8 bulan lainnya berlangsung musim kemarau, debit sumber air menurun drastis, daerah pertanian mengalami kekeringan, pasokan air baku tidak memenuhi kebutuhan penduduk perkotaan maupun pedesaan.